Nikah dalam Alquran

Ditulis oleh Mulhaeri on . Posted in Karya Tulis Populer

NIKAH  DALAM  AL-QURAN
(Suatu Kajian dengan Pendekatan Tafsir Mauḍu'iy)
Dr. Slamet M.HI*

 

Perkawinan atau pernikahan merupakan fitrah bagi setiap orang. Dengan kata lain bahwa mendambakan pasangan merupakan fitrah yang sulit dibendung, apalagi seseorang yang telah mencapai usia dewasa. Oleh karena itu, al-Qur'an mensyariatkan dijalinnya pertemuan antara laki-laki dan perempuan, dan dari pertemuan itu mereka saling mengenal antara satu dengan lainnya,[1] kemudian melalui petunjuk al-Qur'an juga, manusia diarahkan untuk melangsungkan pernikahan,[2] agar mereka hidup tenteram, sakinah, mawaddah  wa rahmah.[3]Al-Qur'an telah menegaskan bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan, laki-laki dan perempuan,[4]

Ibn Faris menjelaskan bahwa nikah (النكاح) berasal dari huruf nun, kaf, dan ha yang berarti al-biḍa', yakni hubungan seksual atau al-jima'. Pengertian lain secara literal, nikah adalah وهو الوطء والضم .[5] Al-waṭ’u (bersenggama), dan atau al-ḍammu (bercampur). Kata nikah tersebut, sering disepadankan dengan kata ziwaj atau tazwij karena memiliki kesamaan makna dan pengertian.

Nikah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami-isteri dengan resmi.[6] Di samping definisi ini, banyak lagi definisi tentang nikah dengan konteks yang beragam, namun kandungan intinya sama. Misalnya, menurut maẓab Hanafiah, nikah sebagai   المتعة قصد  النكاح عقد بأنه يفيد ملك [7] (Nikah adalah akad yang kegunaannya untuk memiliki, bersenang-senang dengan sengaja). Selanjutnya dalam maẓab al-Syafiiyah di-definisikan bahwaالنكاح بأنه عقد يتضمن ملك وط بلفظ انكاح او تزويج او معناهما [8] (Nikah adalah akad yang mengandung ketentuan hukum kebolehan bersenang-senang dengan lafaż nikah atau tazwij, atau yang semakna dengan keduanya). Kemudian dalam maẓab Malikiyah didefinisikan bahwa النكاح بأنه عقد على مجرد متعة التلذذ بأدمية غير موجب قيمتها ببينة [9] (nikah adalah yang mengandung ketentuan hukum semata-mata untuk membolehkan waṭa', bersenang-senang dan menikmati apa yang ada pada diri seseorang perempuan yang boleh nikah dengannya).

Berdasarkan pengertian di atas, dapat dipahami bahwa para ulama maẓhab memandang nikah sebagai kebolehan hukum antara seseorang lak-laki dengan seorang perempuan untuk berhubungan yang semula dilarang. Pengertian nikah yang mereka definisikan belum tercakup tujuan, akibat atau pengaruh nikah tersebut terhadap dan kewajiban suami istri. Kemudian ulama muta'akhkhirin dalam mendefinisikan nikah, memasukkan unsur hak dan kewajiban suami-istri ke dalam pengertian nikah, misalnya Wahbah al-Zuhailiy mendefinisikan :

النكاح عقد يفيد حل عشرة بين الرجل والمرأة وتعاونهما ويـجد ما لكليهانا من حقوق وما عليه من واجبات[10]

Artinya :

Nikah adalah akad yang memberikan faedah hukum kebolehan mengadakan hubungan keluarga (suami-istri) antara laki-laki dan perempuan, dan tolong menolong, serta memberi batas hak bagi pemiliknya dan pemenuhan kewajiban masing-masing.

Pengertian di atas mengandung penjelasan bahwa aspek akibat hukum nikah adalah saling mendapat hak dan kewajiban, serta bertujuan membangun keluarga yang dilandasi tolong menolong, saling pengertian dan karena itulah maka nikah dalam syariat memiliki maksud dan tujuan, yakni tiada lain mengarapkan keriḍaan Allah. Yang demikian ini, sejalan juga dengan apa yang terdapat dalam Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 bahwa nikah adalah :

“Ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang perempuan sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”

1. Tujuan menikah

Tujuan menikah dijelaskan dalam surat al-Syura (Q.S. 42: 11) bahwa tujuan tersebut sejalan dengan tujuan penciptaan manusia secara berpasang-pasangan. Dalam ayat terdapat redaksi kalimat جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا (Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan). Dengan ayat ini, maka manusia diciptakan agar mereka mencari pasangannya yakni menikah dengan pasangannya dalam konteks أَنْفُسِكُمْ    أَزْوَاجًا . Penggunakan kata أَنْفُسِكُمْ di sini adalah bentuk jamak dari kata nafs yang antara lain berarti "jenis" atau "diri". Pernyataan bahwa manusia diciptakan dari jenisnya memberikan pemahaman secara kontekstual bahwa melampiaskan nafsu seksual melalui makhluk lain, dan menikah dengan makhluk lain, atau melakukan hubungan dengan selain pasangan sah suami-isteri adalah sama sekali tidak dibenarkan oleh agama Islam.

Di sisi lain, penggunaan kata anfus dalam ayat tersebut, termasuk ayat dalam surat al-Nisa (Q.S. 4 : 1) bahwa Allah menciptakan dari nafsin wahidah, pasangannya, mengandung makna bahwa pasangan suami isteri hendaknya menyatu sehingga menjadi nafs/diri yang satu, yakni menyatu dalam perasaan dan pikiran, dalam cita dan harapannya, dalam gerak dan langkahnya, inilah tujuan syariat nikah yang dipahami dari ayat tersebut.

Kata anfusikum azwaja, juga disebutkan dalam surat al-Rum          (Q.S. 30 :21)  sebagaimana yang telah dikutip, dan di ayat ini lebih jelas lagi tujuan nikah, yakni لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً (supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang). Kata taskunu yang berasal dari kata sakana artinya "diam, tenang, setelah sebelumnya sibuk", memberi gambaran bahwa di dalam pernikahan akan ditemukan ketenangan, dan dalam rumah tangga adalah tempat berdiam untuk merasakan ketenangan tersebut.

M. Quraiṣ Ṣihab menjelaskan bahwa kata إِلَيْهَا dalam ayat tersebut yang terangkai dengan kata لِتَسْكُنُوا mengandung makna cenderung menuju kepadanya, memberi pemahaman bahwa Allah menjadikan pasangan suami-istri masing-masing untuk merasakan ketenangan di samping pasangannya, serta cenderung kepadanya.[11] Setelah itu, ditemukan lagi kata مَوَدَّةً وَرَحْمَةً yang juga menjadi tujuan pernikahan. Kata mawaddah mengandung arti hidup harmonis, rahmat dankasih sayang.

Dengan dipahaminya tujuan mulia pernikahan tersebut, maka al-Qur'an lebih lanjut dalam surat al-Nur (Q.S. 24: 32) menganjurkan manusia untuk menikah. Ayat ini dimulai dengan kata وَأَنْكِحُوا sebagai fi'il amr, kalimat perintah untuk menikah, yakni menikah dengan orang-orang yang layak dinikahi menurut syariat Islam.

Muhammad Mahmud Hijazi menjelaskan bahwa surat al-Nur        (Q.S. 24: 32) sesungguhnya mengilangkan syak (keraguan) bagi orang-orang yang ragu-ragu menikah. Menurutnya, sebagian ada orang yang ragu-ragu menikah karena sangat takut memikul beban berat dan mengindarkan diri dari kesulitan-kesulitan. Pendapat yang seperti adalah salah dan keliru karena Allah swt. melalui ayat tersebut menjamin bahwa menikah akan memberikan kepada yang bersangkutan jalan kecukupan, mengilangkan kesulitan-kesulitan, dan memberikan kekuatan yang mampu mengatasi kemiskinan.[12]

Anjuran menikah di samping ditegaskan dalam dalam al-Qur'an, juga ditegaskan dalam hadiṡ Nabi saw., misalnya :

حَدِيْثُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِي اللَّه عَنْه يَقُولُ جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ e يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ e فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ e قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ e إِلَيْهِمْ فَقَالَ أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي [13] (متفق عليه)

      Artinya :

Hadiṡ dari Anas bin Mālik ra berkata : Datang tiga orang ke rumah isteri Nabi saw untuk menanyakan ibadah Nabi saw, kemudian sesudah diberitahu mereka anggap sedikit, tetapi mereka lalu berkata : Di manakah kami jika dibanding dengan Nabi saw yang telah diampuni semua dosanya yang lalu dan yang akan datang. Lalu yang satu berkata : Saya akan bangun semalam suntuk ṣalat untuk selamanya. Yang kedua berkata: Aku akan puasa selama hidup dan tidak akan berhenti. Ketiga berkata: Aku akan menjauhi perempuan dan tidak akan kawin untuk selamanya. Kemudian datang Nabi saw bertanya kepada mereka: Kalian telah berkata begini, begitu ; ingatlah demi Allah akulah yang lebih takut kepada Allah daripada kalian, dan lebih taqwa kepada Allah, tetapi aku puasa dan berbuka, ṣalat malam dan tidur, dan kawin dengan perempuan, maka siapa tidak suka kepada sunnahku, bukan dari ummatnya.          (HR. disepakati oleh Bukhari dan Muslim).

Inti dari hadiṡ Nabi saw. tersebut adalah bahwa “menikahi perempuan” adalah termasuk sunnah, dan mereka yang enggan mengikuti sunnah Nabi saw., maka yang bersangkutan bukan termasuk umat Nabi saw. Hadiṡ tersebut dan ayat-ayat yang telah dikutip mengandung interpretasi bahwa Islam tidak menyukai mereka yang berpendirian “anti kawin”. Islam tidak membenarkan orang-orang yang sengaja mengindar dari pernikahan atau menunda-nunda pernikahan tanpa ada alasan khusus yang dibenarkan oleh hukum syar’i. Mereka yang mengindarkan diri dari pernikahan adalah termasuk orang-orang yang menyalahi fitrah kemanusiaannya, sebab setiap manusia diciptakan untuk berpasang-pasangan sebagaimana dalam             surat  al-Rum (Q.S. 30: 21) yang telah diuraikan di atas.

Berdasarkan uraian di atas, maka hukum asal nikah adalah sunnah, namun berdasarkan beberapa dalil, para ulama menetapkan ada bebarapa hukum pernikahan sebagai berikut :

  1. Hukumnya adalah wajib, jika seseorang telah mempunyai pembiayan material/harta dan kemampuan psikologis (perasaan) dan biologis (kemampuan fisik) dan dihawatirkan terjerumus ke dalam dunia perzinahan apabila tidak melaksanakan perkawinan.
  2. Hukumnya adalah sunnat, jika seseorang telah mempunyai kemampuan biaya material dan kemampuan psikologis (perasaan) dan biologis.
  3. Hukumnya adalah haram, bagi orang yang mempunyai niat untuk menyiksa isterinya, atau tidak mempunyai kemampuan.       
  4. Hukumya adalah makruh bagi orang yang tidak mampu memberi nafkah kepada isterinya.

Bagi mereka yang tergolong dalam kategori wajib dan sunnat maka hendaklah ia mencari calon pasangannya yang baik-baik dari lingkungan umat Islam sendiri, bukan mencari pasangan yang haram, tidak boleh dinikahi menurut ketentuan agama Islam.

2.  Perempuan/laki-laki yang tidak boleh dinikahi

Secara jelas surat al-Baqarah (Q.S. 2 : 221) yang telah dikutip sebelumnya melarang menikah perempuan-perempuan musyrik. Hal tersebut dipahami dari bagian awal ayat yakni, وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ (Dan janganlah kamu nikahi perempuan-perempuan musyrik, sebelum mereka beriman). Mafhum mukhalafah dari penggalan ayat ini tentu saja memberi pemahaman dalam mencari jodoh hendaknlah dari lingkungan umat Islam sendiri. Lanjutan ayat tersebut menegaskan lagi bahwa, perempuan budak yang mu'min lebih baik dari perempuan musyrik.

Huruf وَلَا yang mendahului ayat di atas sebagai la nahiy yang berguna untuk melarang, dan dalam kaidah uṣul fiqh dikatakan bahwa الأصل فى النهي للتحريم [14] (pada dasarnya, setiap larangan mengandung hukum haram). Illat keharaman menikah perempuan musyrik adalah karena berlaikan agama dan kepercayaan. Hal ini tidak saja berlaku bagi laki-laki muslim, justru yang terpenting adalah ayat tersebut harus dipahami secara kontekstual bahwa dilarangnya laki-laki muslim menikahi perempuan musyrik, praktis pelarangan tersebut berlaku bagi perempuan muslim yang ingin dinikahi laki-laki musyrik. Namun ayat tersebut secara tekstual menjelaskan keharaman bagi laki-laki karena berdasar pada konteks sebab nuzulnya yang telah dikemukakan bahwa pelaku dalam kasus tersebut adalah laki-laki sahabat Rasulullah saw. bernama Marṡad.

Jadi dapat dipahami bahwa alasan utama larangan pernikahan dengan non muslim adalah karena perbedaan agama. Pernikahan dimaksudkan agar terjalin hubungan yang harmonis, minimal antara pasangan suami-istri dan anak-anaknya. Bagaimana mungkin keharmonisan tercapai apabila keyakinan agama yang dinaut oleh sang suami berbeda, apalagi bertentantangan dengan keyakinan agama yang dianut oleh istri. Keyakinan agama sangat dominant mewarnai pikiran dan tingkah laku seseorang.

Dalam pandangan Islam, nilai tauhid dan iman adalah yang paling tinggi, meskipun dalam keadaan bagaimanapun tidak boleh dikorbankan, dan harus dipertahankan dan diteruskan pada anak, cucu dan keturunannya.

Perlu juga digarisbawahi bahwa faktor lain yang berkaitan dengan larangan pernikahan muslim dan atau muslimah dengan non muslim, non muslimah, yakni faktor anak. Anak manusia adalah anak yang paling panjang masa kanak-kanaknya. Berbeda dengan lalat yang hanya membutuhkan dua jam, atau binatang lain yang hanya membutuhkan sekitar sebulan, atau sampai tahun. Anak membutuhkan bimbingan hingga ia mencapai usia remaja. Orang tualah yang berkewajiban membimbing anak tersebut hingga ia dewasa. Di sini mungkin timbul pertanyaan, berapa tahun ia akan dibimbing oleh orang tua yang tidak memiliki nilai-nilai keIslaman, jika ibu atau bapaknya   musyrik ?. Kalaupun sang anak kemudian beriman, dapat diduga bahwa imannya memiliki kekeruhan akibat pendidikan orang tuanya di masa kecil. Karena itulah, demikian sakralnya pernikahan dalam Islam, dan demikian ketatnya aturan Islam tentang hal tersebut, oleh karenanya dalam Islam menikah dengan lain agama sangat dilarang.

Di samping adanya pelarangan nikah dengan non muslim, ditemukan juga beberapa dalil tentang larangan menikah terhadap perempuan muslim karena adanya beberapa faktor, misalnya karena hubungan mahram. Perempuan-perempuan yang haram dinikahi adalah, ibu tiri, dan nenek seterusnya ke atas, anak kandung seayah maupun seibu seterusnya ke bawah, saudari sesusuan, ibu isteri (mertua), anak perempuan istri yang sudah digauli lalu dicerai, maka anak mantan istri tersebut boleh dinikahi, istri anak kandung, dan diharamkan pula menikahi dua perempuan bersuami. Ketentuan-ketentuan ini, ditegas-kan dalam surat al-Nisa (Q.S. 4 : 23-25), yakni :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

   Terjemahnya :

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan mengimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan (diharamkan juga kamu mengawini) perempuan yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu ni`mati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.[15]

Selain perempaun yang tidak disebutkan dalam ayat di atas, dapat dinikahi. Namun Islam juga menuntun bagaimana calon istri/suami yang layak dinikahi. Tuntunan tersebut sebagaimana dalam hadiṡ Nabi saw. yakni :

عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّه عَنْه عَنِ النَّبِيِّ e قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ  (رواه ابو داود)

     Artinya

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. bersabda bahwa orang menikahi perempuan, karena empat (perkara): karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Oleh karena itu, pilihlah perempuan yang baik agamanya (karena jika tidak) binasalah dua tanganmu. (Hadiṡ disepakati Bukhāri dan Muslim).[16]

Hadiṡ di atas menyebutkan bahwa ada beberapa komponen yang harus diperhatikan dalam memilih calon isteri atau calon suami, yakni :

a.  Karena harta

Seorang yang ingin menikah karena faktor harta yang dimiliki calon pasangannya, atau karena calonnya itu adalah hartawan, meskipun dibolehkan oleh agama, tetapi faktor ini bukanlah yang terpenting, karena seringkali harta itu menggelincirkan seseorang ke arah yang negatif. Di sisi lain, harta adalah sesuatu yang bukan abadi, ia akan habis, dan kenyataannya pula bahwa banyak orang yang berharta tetapi kehidupannya tidak tenteram dikarenakan menjaga hartanya itu yang pada akhirnya melupakan tujuan utama hidupnya untuk beribadah.

b.  Karena keturunan

Ditemukan pula dalam masyarakat bahwa ada seseorang yang ingin menikah karena faktor kebangsawanan, gelar, pangkat, dan semisalnya yang dimiliki calonnya itu. Memilih calon isteri atau suami dengan karena faktor-faktor tersebur boleh saja, tidak terlalu berfaedah. Malahan, jika faktor ini yang diutamakan maka akan bertambah hina dia dan dihinakan, karena kebangsawanan salah seorang di antara suami-isteri itu tidak akan berpindah kepada orang lain. Yang terpenting juga untuk ditelusuri dalam memilih calon adalah meneliti keturunan masing-masing, terutama mengenai penyakit keturunan seperti ayan (epilepsi), dan penyakit keturunan lainnya karena hal tersebut berdampak negatif bagi anak-anak yang akan dilahirkan nantinya.

c. Karena kecantikan

Pada umumnya, lelaki sangat cepat tertarik kepada perempuan karena kecantikannya. Demikian juga sebaliknya, perempuan lebih cepat tertarik kepada lelaki karena ketampanannya. Wajah cantik dan tanpan ini, seringkali mengalahkan perhitungan lain dalam membangun rumah tangga. Tetapi, perlu diketahui bahwa wajah yang elok itu, akan pudar juga. Dalam realitasnya, kebagusan wajah lebih utama dari keturunan, karena wajah yang demikian dapat menimbulkan ketenteraman rumah tangga, terutama dalam berhubungan intim, tetapi untuk mempertahankan kecantikan atau ketampanan memerlukan perawatan khusus secara intensif, dan biaya yang banyak yang pada gilirannya juga diprediksikan dapat meretakkan hubungan suami isteri. Salah dalam merawat wajah, akibatnya sangat fatal, sehingga dapat dikatakan bahwa faktor kecantikan-ketampanan tersebut bukanlah sesuatu yang harus didominankan dalam mencari jodoh.

d.  Karena agama

Sudah menjadi syariat Islam bahwa seorang muslim haruslah memilih yang muslimah sebagaimana yang dipahami dalam surat al-Baqarah (Q.S. 2 : 221) tadi. Perbedaan agama dan atau kepercayaan sering membawa konflik di dalam rumah tangga, juga membingungkan anak-anak mereka nantinya di dalam memilih agama. Terkait dengan ini, Nabi saw. pernah bersabda :إن الدنيا كلها متاع وخير متاع الدنيا المرأة الصالحة (Sesungguhnya dunia secara umum adalah hiasan dan sebaik hiasan adalah perempuan yang ṣalehah).

Ciri-ciri perempuan ṣalehah menurut al-Qur’an, dijelaskan lagi dalam surat al-Nisa (Q.S. 4: 34), yakni فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ (adapun perempuan-perempunan yang ṣalehah ialah meraka yang taat kepada Allah dan suaminya, memelihara hak suaminya sewaktu-waktu suaminya itu tidak ada). Dengan ayat ini, jelaslah bahwa agama dan budi pekerti itu yang menjadi pokok dan utama untuk mencari calon isteri/calon suami.

4. Hukum nikah poligami

Poligami adalah ta'addud al-zawj yakni menikah lebih dari satu istri, misalnya menikah dua, tiga, atau empat isteri sebagaimana dalam surat        al-Nisa (Q.S. 4:3) yang telah dikutip sebelumnya. Tekstual ayat tersebut membolehkan poligami sampai empat istri, yakni فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ (maka nikahilah perempuan-perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat), kemudian ayat ini mensyaratkan bahwa boleh saja poligami asalkan suami dapat berlaku adil.

Berdasarkan redaksi tekstual ayat tersebut, kebanyakan ulama salaf membolehkan poligami sebagaimana yang dijelaskan oleh Faḍlu al-Raman dengan ketentuan :

  1. Poligami itu diperbolehkan dalam kondisi tertentu dan keadaan tertentu pula, dengan alasan utama dapat berlaku adil terhadap semua istri.
  2. Kebolehan melakukan poligami dibatasi dengan pembatasan, bahwa dilakukannya dengan tidak melebihi dari empat orang istri.
  3. Istri kedua dan istri ketiga, jika memang karena keadaan laki-laki yang bersangkutan beristri sampai tiga, maka hak mereka sama dengan hak istri yang pertama. Begitu pula kewajiban-kewajiban yang harus mereka lakukan. Iṡri yang kedua atau ketiga berkewajiban melakukan segala kewajiban yang dijatuhkan kepada istri pertama. Persamaan dalam perlindungan kesehatan, kesejahtraan, dan kebaikan bagi semua istri itu adalah syarat yang harus dipenuhi oleh laki-laki yang terpaksa beristri lebih dari satu.[17]

Berbeda dengan ulama salaf, kebanyakan ulama kontemporer justru memahami surat al-Nisa (Q.S. 4: 3) tersebut secara kontekstual, sehingga mereka sangat berhati-hati dalam menetapkan hukum kebolehan berpoligami, walaupun mereka mengakui bahwa hukum asalnya adalah boleh berdasarkan ayat tersebut.

Asgar Ali Enginer secara tegas menyatakan bahwa beristri lebih dari seorang sampai dengan empat istri tidak diperbolehkan secara umum dalam al-Qur'an. Pembolehan dalam ayat tertentu, yakni surat al-Nisa (Q.S. 4: 3) menurutnya hanya berlaku pada zaman Nabi saw. tepatnya setelah perang Uhud dengan memperhatikan sebab wurudnya ayat tersebut. Pada perang Uhud, 70 orang dari 700 laki-laki muslim mati syahid, kejadian ini sangat mengurangi jumlah laki-laki sebagai pemberi nafkah bagi kaum perempuan, karena kaum perempuan pada waktu itu banyak yang menjadi janda.

Setelah selesai perang Uhud, kaum laki-laki muslim banyak yang mati syahid, dan sebagai konsekuensinya, menikahi perempuan dengan cara poligami dianjurkan.[18] Dengan demikian, Asgar Ali Enginer dalam melihat pembolehan dan ketidakbolehan berpoligami merujuk pada sebab nuzulnya ayat, dalam konteks ini bahwa keaadaan pada zaman Nabi saw. berbeda dengan zaman sekarang.

Demikian pula analisis dalam makalah ini bahwa semangat al-Qur'an tentang membolehkan poligami adalah dalam rangka menolong para janda akibat perang uhud, dan anak yatim ketika itu untuk mendapatkan perlindungan, dan poligami yang yang dilakukan pada masa itu bukan semata-mata untuk memuaskan dorongan seks ekstra laki-laki terhadap kaum perempuan, melainkan untuk mengangkat harkat dan martabat serta meringankan beban penderitaan kaum janda pada saat itu yang suaminya mati syahid di medan perang uhud.

Di sisi lain, ayat tersebut yang menjelaskan tentang bolehnya berpoligami, dalam hal ini berkaitan dengan sikap kaum laki-laki dalam pemeliharaan anak yatim perempuan yang bermaksud menikahi mereka karena harta mereka, tetapi tidak berlaku adil. Hal ini dipahami dari awal redaksi ayat yang berbicara tentang anjuran menikahi perempuan yatim, yakni وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا (Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bila-mana kamu mengawininya)). Jadi jelas bahwa ayat ini ditujukan kepada para pemelihara anak yatim yang hendak menikahi ibu mereka tanpa berlaku adil. Selanjutnya pada kata خِفْتُمْ yang biasa diartikan takut menunjukkan bahwa siapa yang yakin atau menduga keras tidak akan berlaku adil, dan menyakini istri yang telah ada tidak takut dan tidak rela dimadu, maka seorang suami tidak diperkekankan melakukan poligami. Demikian juga penggunaan تُقْسِطُوا / tuqsiu dalam ayat tersebut bukan ta'dilu walaupun artinya serupa, namun tuqsiu lebih berkenaan dengan berlaku adil antara dua orang atau lebih, sedangkan ta'dilu berlaku adil dan baik terhadap orang lain maupun diri sendiri, sehingga penggunaan tuqsiu dalam ayat tersebut menekankan perlunya menyenangkan dua orang istri atau lebih yang dinikahinya. Kaitannya dengan kondisi perempuan sekarang pada umumnya, justru mereka tidak senang apabila dimadu atau dipoligami oleh suaminya.

Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil pengertian bahwa surat al-Nisa (Q.S. 4: 3) sesungguhnya tidak menganjurkan bagi laki-laki untuk berpoligami, tetapi ayat tersebut hanya menjelaskan tentang bolehnya berpoligami, dan itupun hanya merupakan pintu darurat yang hanya dapat dilalui oleh orang-orang tertentu yang sangat membutuhkannya dengan syarat yang tidak ringan, yakni diwajibkannya dapat berlaku adil dalam segala hal, dalam urusan hidup bersuami-istri.

 

*Ketua Pengadilan Agama Barru



[1]Q.S. al-Hujurat (49: 13).

[2]Q.S. al-Nisa (4: 3).

[3]Q.S. al-Rum (30: 21).

[4]Q.S. al-Ra'ad (13: 38), Q.S. al-Nahl (16: 72), Q.S. Faṭir (35: 11), Q.S. al-Naba       (78: 8).

[5]Abu al-Husain Ibn Faris bin Zakariyah, Mu'jam Maqayis al-Lugah, Juz I(Bairut: Dar al-Fikr, 1974), h. 255.

[6]Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), h. 614.

[7]Abd. al-Rahman al-Jaziri, Al-Fiqh 'Ala Mażahib al-Arba'ah, juz IV (Mesir: Dar al-Qalam, 1979), h. 2.

[8]Ibid.

[9]Ibid., h. 3.

[10]Wahbah Al-Zuhayly, Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu, juz II (Cet. III; Damaskus: Dar al-Fikr, 1989), h. 211.

[11]M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah; Kesan, Pesan, dan Keserasian Al-Qur'an, vol.11 (Cet. IV; Jakarta: Lentera Hati, 2006), h. 35.  

[12]Muhammad Mahmud Hijazi, Tafsir al-Wadhih, Juz VI (Cet. VI; Kairo: Maṭba'ah al-Istiqlal al-Kubrah, 1979), h. 128.

[13]Abu Abdullah bin al-Mugirah bin al-Bardizbah al-Bukhari, ahih al-Bukhari, juz V (Semarang: Toha Putra, t.ṭ), h. 116. Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi, Shahih Muslim, juz I (Bandung: Maktabah Dahlan, t.ṭ), h. 584.

[14]Abd. Hamid al-Hakim, Al-Bayan fiy Ushul al-Fiqh (Bandung: Angkasa, 1992),       h. 2.

[15]Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahnya, Edisi Revisi, Jakarta: CV. Pustaka Agung Harapan, 2006, h. 105-106.

[16] Abu Daud Abu Sulaiman ibn Asy’as al-Sijistani, Sunan Abu Daud Juz I, Suria:  Dar  al-Hadis, t.th., h. 539.

[17]Fadlurrahman, Islam Mengangkat Martabat Perempuan (Cet. I; Jakarta: Pustaka pelajar, 1999), h. 56.

[18]Asgar Ali Enginer, The Rigt of Women in Islam diterjemahkan oleh Farid Wajidi dan Cici Farkha Asegaf dengan judul Hak-hak Perempuan dalam Islam (Cet. I; Yogyakarta: Yayasan Bentang Budara,.1994), h.  221-222.