Sumpah Sebagai Alat Bukti

Ditulis oleh Mulhaeri on . Posted in Karya Tulis Populer

SUMPAH SEBAGAI ALAT BUKTI
Ugan Gandaika, S.H., M.H*

 

I. Definisi

Dalam sistem hukum acara peradilan di Indonesia pembuktian merupakan sebuah tahapan yang harus dilalui. Pembuktian dalam konteks dunia peradilan adalah usaha dari para pencari keadilan untuk meyakinkan majelis hakim dalam memutus perkara yang diajukan kepadanya. Pembuktian merupakan tahapan penentu putusan yang akan dijatuhkan oleh majelis hakim.

Dalam sistem hukum di Indonesia dikenal 5 macam alat bukti yang dapat diajukan pada tahap pembuktian. Hal ini sebagaimana disebutkan pada pasal 164 HIR/ 284 R.Bg., yaitu berupa alat bukti surat, alat bukti saksi, alat bukti persangkaan, alat bukti pengakuan dan alat bukti sumpah.

Pada makalah kali ini penulis akan membahas Sumpah sebagai slah satu alat bukti. Sebagai landasan pijakan dalam pembahasan sumpah terlebih dahulu akan di paparkan beberapa definisi sumpah.

Sumpah menurut bahasa hukum Islam disebut al-yamin atau al-hilf, tetapi kata al-yamin lebih umum dipakai. Menurut Wahbah al-Zuhaily, sumpah adalah Pengucapan kata sumpah dengan nama Allah di hadapan hakim untuk menetapkan hak, perbuatan atau menyangkalnya.[1]

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terdapat dua definisi sumpah. Definisi yang pertama, sumpah adalah suatu pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap (untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhan). Kedua, sumpah adalah kata-kata yang buruk, kutuk atau tulah.[2] Kemudian menurut A. Mukti Arto, dalam bukunya Praktek Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama, sumpah ialah pernyataan yang khidmat yang diberikan atau diucapkan pada waktu memberi janji atau keterangan dengan mengingat sifat Maha Kuasa Tuhan, dan percaya bahwa barang siapa yang memberi keterangan atau janji yang tidak benar akan dihukum olehnya. [3]

Gemala Dewi, dalam buku Hukum Acara Perdata Peradilan Agama di Indonesia menjelaskan sumpah ialah suatu pernyataan yang khidmat yang diberikan atau diucapkan pada waktu memberi janji atau keterangan dengan mengingat sifat maha kuasa Tuhan dan percaya bahwa siapa yang memberi keterangan atau janji yang tidak benar akan dihukum oleh Nya.[4]

Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik satu definisi sebagai acuan dalam tulisan ini yaitu sumpah adalah sebuah pernyataan dengan bersaksi dan berjanji atas nama Tuhan yang Maha Esa atau atas nama sesuatu yang dianggap suci guna menguatkan pernyataan yang diucapkan atau dituntutkan.

Bertolak dari definisi tersebut timbul pertanyaan bagaimana sebenarnya kedudukan sumpah sebagai sebuah alat bukti, apa jenis-jenis sumpah dan bagaimana nilai kekuatanya.

II. Dasar Hukum

Dalam Undang-undang di Indonesia diatur bebrapa aturan berkaitan dengan sumpah diantaranya sebagai berikut:

  1. Pasal 155 HIR / 182 R.Bg / menjelaskan tentang sumpah sebagai pelengkap pembuktian (sumpah suplitoir)
  2. Pasal 156 dan HIR /183 R.Bg/ 1930 dan 1940 KUHPer  menjelaskan tentang sumpah yang dibebankan atas permintaan salah satu pihak (sumpah desicoir). Menurut Mukti Arto berbeda dengan sumpah suplitoir, maka sumpah decisoir bisa dilakukan tanpa pembuktian.[5]
  3. Pasal 177 HIR, 1936 BW menerangkan bahwa seseorang yang telah diambil sumpah maka tidak boleh dimintai pembuktian lain.

 III.   Jenis-Jenis Sumpah

Dalam peradilan agama, dikenal 4 macam sumpah yang dijadikan sebagai alat bukti, yaitu:

a) Sumpah pelengkap (suppletoireed), yaitu sumpah pelengkap atau tambahan, diatur dalam Pasal 155 HIR, atau Pasal 182 R. Bg dan Pasal 1945 KUH Perdata.[6]

b) Sumpah pemutus yang bersifat menentukan (decisoir), diatur dalam Pasal 156 HIR, Pasal 183, R. Bg, dan Pasal 1930 KUH Perdata.[7]

c) Sumpah penaksir (aestimatoir, schattingseed), yaitu sumpah yang diperintahkan oleh hakim, karena jabatannya kepada Penggugat untuk menentukan sejumlah uang ganti kerugian. Sumpah penaksir dilaksanakan karena dalam praktik sering terjadi bahwa jumlah uang ganti kerugian yang diajukan oleh pihak yang bersangkutan itu simpang siur, maka soal ganti rugi harus dipastikan dengan pembuktian.[8]

d) Sumpah li‘an, yaitu sumpah yang khusus dalam hal perkara permohonan talak dengan alasan istri berbuat zina, sumpah li‘an ini berbeda dengan sumpah pemutus dan sumpah pelengkap. Sumpah li‘an ini diatur dalam Pasal 87-88 Undang-Undang Nomor 7 1989 tentang Peradilan Agama.

IV.   Nilai Dan Kekuatan Dalam Pembuktian

Tiap tiap alat bukti mempunyai kekuatan pembuktian tersendiri menurut hukum pembuktian. 

  1. Sumpah Suplitoir memilki kekuatan pembuktian yang mengikat, sempurna dan menentukan.

Mengikat dan menentukan artinya meskipun hanya ada satu alat bukti, telah cukup bagi hakim untuk memutus perkara berdasarkan alat bukti tersebut tanpa membutuhkan alat bukti lain. Selain itu hakim juga terikat dengan bukti tersebut sehingga tidak dapat memutus lain daripada yang telah terbukti dengan satu alat bukti itu. Dan juga alat bukti ini tidak dapat dilumpuhkan dengan bukti lawan/bukti sebaliknya.

Sempurna artinya meskipun hanya ada satu alat bukti telah cukup bagi hakim untuk memutus perkara berdasarkan alat bukti itu tanpa memerlukan alat bukti lain. Hakim juga terikat dengan bukti tersut, kecuali tidak dapat dibuktikan sebaliknya. Dan bukti tersbut dapat dilumpuhkan dengan bukti lawan. 

  1. Sumpah Desicoir memiliki kekuatan pembuktian mengikat, sempurna, dan menentukan.

Mengikat dan menentukan artinya meskipun hanya ada satu alat bukti, telah cukup bagi hakim untuk memutus perkara berdasarkan alat bukti tersebut tanpa membutuhkan alat bukti lain. Selain itu hakim juga terikat dengan bukti tersebut sehingga tidak dapat memutus lain daripada yang telah terbukti dengan satu alat bukti itu. Dan juga alat bukti ini tidak dapat dilumpuhkan dengan bukti lawan/bukti sebaliknya.

Sempurna artinya meskipun hanya ada satu alat bukti telah cukup bagi hakim untuk memutus perkara berdasarkan alat bukti itu tanpa memerlukan alat bukti lain. Hakim juga terikat dengan bukti tersut, kecuali tidak dapat dibuktikan sebaliknya. Dan bukti tersbut dapat dilumpuhkan dengan bukti lawan.

V. Penutup

-  Sumpah adalah sebuah pernyataan dengan bersaksi dan berjanji atas nama Tuhan yang Maha Esa atau atas nama sesuatu yang dianggap suci guna menguatkan pernyataan yang di ucapkan atau di tuntutkan.

- Mengenai sumpah diatur dalam Pasal 155 HIR / 182 R.Bg, Pasal 156 dan HIR /183 R.Bg/ 1930 dan 1940 KUHPer  Pasal 177 HIR, 1936 BW

- Sumpah merupakan salah satu alat bukti yang diatur dalam Undang-undang dan dalam prakteknya masih jarang dijumpai. Sumpah juga merupakan alat bukti utama apabila tidak ditemui alat bukti yang lain.

 

*Hakim Pengadilan Agama Barru



[1] Wahbah Zuhaily, Fiqh al-Islam wa Adillatuhu, Juz 6, (Damaskus: Dar al-Fikr,1985),  hal. 781. 

[2] KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

[3] A. Mukti Arto, (Praktek Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama) Hlm.178

[4] Gemala Dewi, Hukum Acara Perdata Peradilan Agama di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2005), hal. 137.

[5] A. Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata Pada Perdilan Agama, hal 184

[6] H. Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama, (Jakarta: Kencana, 2012), hal. 264.

[7] H. Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama, hal. 266.

[8] H. Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama, hal. 268.