Jangan Biarkan Masyarakat Bingung !

Ditulis oleh Mulhaeri on . Posted in Karya Tulis Populer

Jangan Biarkan Masyarakat Bingung !
(Realitas dalam Pembentukan Hukum Islam)

oleh Ali Rasyidi Muhammad*

Realitas sama dengan air yang mengalir di sungai, setiap kali kita mandi di sungai tesebut maka kita akan mandi dengan air yang berbeda, demikian pula hukum akan berubah dan senantiasa berbeda mengikuti realitas dan fenomena yang ada dan hidup di masyarakat. Sehingga sebelum satu aturan (hukum) diterapkan dalam masyarakat haruslah di pertimbangkan dari berbagai sudut pandang khususnya realitas dan kondisi masyarakat yang merupakan objek hukum, apakah sudah siap untuk menerima aturan tersebut atau tidak?  Masih segar dalam ingatan penulis bagaimana Pemprov DKI Jakarta pernah mengeluarkan Perda tetang larangan merokok dengan ancaman hukuman denda dan penjara bagi masyarakat yang melanggar larangan tersebut, namun Perda tersebut tidaklah didasarkan pada penelitian yang mendalam akan realitas yang ada di masyarakat pada saat itu, dimana jutaan penduduk Jakarta adalah pecandu rokok sementara sarana dan prasarana untuk menegakkan Perda tersebut tidaklah memadai, hingga akhirnya Perda tersebut mandek ditengah jalan dan hanya menjadi bahan lelucon bagi masyarakat Jakarta.

 Hukum Islam pun demikan, ia akan selalu dituntut untuk mengikuti perubahan yang terjadi di masyarakat, selalu mengikuti realitas yang senantiasa berubah dikarenakan perubahan waktu dan tempat, tidaklah mengherankan seorang imam besar yang mazhabnya menjadi pegangan  bagi sebagian masyarakat Indonesia yaitu imam syafii memiliki Qaulun Qadim (pendapat lama)diIrakdan Qaulun Jadid (pendapat baru) di Mesir dikarenakan realitas yang berbeda antara kehidupan masyarakat Irak dengan kehidupan masyarakat Mesir, waktu dan tempat ikut mempengaruhi fatwa sang imam, apa yang dilihat dan dialami di Irak ternyata beda dengan apa yang dilihat dan dialami di Mesir, bahkan seandaikan Imam Syafii berskesempatan hidup di Indonesia mungkin pendapatnya akan berubah lagi mengikuti kondisi dan budaya masyarakat Indonesia.

Pertimbangan realitas dan konteks dalam pembentukan hukum bukanlah merupakan hal baru dalam Islam. Jika kita melihat ke belakang bahwa realitas menemukan akarnya dalam alquran sendiri yang merupakan kitab suci umat Islam, sekaligus sumber dari segala sumber hukum Islam, menempati posisi puncak dalam hirarki perundangan-undangan Islam, sehingga sumber hukum yang lain akan terpinggirkan ketika bertentangan dengan alquran. Dalam alquran dapat ditemukan pengaruh realitas dan konteks dalam pembentukan hukum Islam khususnya dalam perkara Nasikh Mansukh, contoh dalam perkara khamar (minuman keras), pengharaman khamar tidaklah datang secara serta merta, mendadak dan seketika, ia datang secara bertahap, mulai dari ayat yang menjelaskan bahwa khamar memiliki manfaat dan mudharat, namun mudaratnya lebih besar (Q.S. Al Baqarah ayat 219) kemudian dilanjutkan dengan ayat larangan mendekati khamar ketika hendak melaksanakan shalat (Q.S. An Nisa ayat 43), sampai pada akhirnya khamar benar-benar dilarang secara mutlak karena merupakan perbuatan keji dan termasuk perbuatan syetan (Q.S. Al Maidah 90-91) dan bagi peminumnya dikenakan  hukuman cambuk 80 kali, jadi ayat tentang pengharaman khamar yang terakhir turun menasakh (menggantikan) ayat yang sebelumnya yang masih membolehkan khamar.

Hal ini menunjukkan bahwa Allah SWT. sangat mempertimbangkan kondisi hamba hambanya. Bangsa Arab pada waktu itu adalah bangsa yang telah mendarah daging kebiasaan minum minuman keras bahkan kalau kita mempelajari syair syair jahily (syair-syair Arab sebelum Islam) maka banyak sekali syair yang bertemakan tentang khamar, olehnya itu Alllah melihat realistas tersebut, Dia tidak ingin memberatkan hamba-hamba-Nya sehingga ayat yang pertama tentang khamar tidak langsung mengharamkan khamar tetapi pada awalnya menyatakan bahwa khamar ada manfaatnya namun adapula mudharatnya dan mudharatnya lebih besar dari manfaatnya, kemudian turun lagi ayat berikutnya yang menyatakan larangn meminum khamar ketika hendak melaksanakan shalat, baru setelah melihat bahwa keimanan umat Islam saat itu sudah mantap dan kondisinya telah siap untuk meninggalkan kebiasaan minum khamar, maka turunlah ayat yang memerintahkan agar umat Islam meninggalkan khamar untuk selamanya.

Demikian pula Rasulullah saw sangat memperhatikan relaitas dan kondisi masyarakat sebelum  memberikan fatwa bagi para sahabatnya, dalam satu riwayat rasulullah saw pernah melarang para sahabatnya untuk berziarah kubur, kenapa demikian karena pada saat itu masih masa-masa awal Islam, zaman jahiliyah baru saja dilewati, zaman dimana kaum arab merupakan penyembah berhala dan hidup dalam paganisme, rasulullah saw takut para sahabatnya kembali menyembah berhala, namun setelah rasulullah melihat kondisi bahwa para sahabatnya telah memiliki iman yang kuat dan keyakinan yang lurus, maka rasulullah membolehkan agar para sahabatnya berziarah kubur bahkan menganjurkannya dengan mengatakan bahawa berziarah kubur memiliki manfaat yang besar diantaranya dapat mengingatkan kita pada akherat.(HR.Muslim, Nasa’i dan abu Dawud)

Olehnya itu tidak dapat dipungkiri bahwa realitas  (alwaqi’) adalah merupakan unsur yang sangat berpengaruh dalam membentukan hukum Islam (fiqhi islam) sehingga seorang mujtahid ketika hendak menciptakan hukum hendaklah melihat realitas atau konteks yang ada dan hidup dalam masyarakat, mengabaikan realitas tersebut menjadikan hukum Islam tidaklah membumi dan rancu yang jutru menimbulkan kebingungan dalam masyarakat Islam.

*Hakim Pengadilan Agama Barru